Minggu, 22 April 2012

KOPI ATENG PENGHASIL RUPIAH DI TANAH SAMOSIR

KOPI ATENG
Memasuki daerah Ronggurnihuta daerah pemukiman leluhur saya yang letaknya sekitar 15 kilometer dari Pangururan (tepian Danau Toba), perjalanan saya disungguhi kebun-kebun kopi yang sedang berbuah. Cukup buat tercengang melihat perubahan yang ada mengingat dimasa  SMAl sekitar  6 tahun yang lalu itu . Waktu itu sepanjang jalan ini hanya ditumbuhi pohon-pohon besar dan jalan ber aspal rusak yang jauh dari perhatian pemkab samosir, tidak berbeda dengan sekarang  kendaraan umum sangat merasa tersiksa ketika melewati daerah ini, namun yang berbeda adalah pepohonan dan semak belukar yang dulunya tidak difungsikan masyarakat sekarang sudah menjadi kebun-kebun kopi yang dapat menghasilkan rupiah. 
Adalah si Kopi Ateng yang membuat kampung muasal saya ini bergeliat. Disebut Kopi Ateng karena pohon kopinya yang pendek-pendek tapi mampu berbuah lebat dan dipanen cepat. Petani lokal menggunakan istilah “Ateng” mungkin teringat dengan pelawak terkenal yang bertubuh pendek itu.



Kopi  ini mampu meningkatkan perekonomian penduduk lokal di daerah ini tidak mengherankan kalau bertani kopi ateng adalah sumbet utama masyarakat di kecamatan ronggurnihuta dan sekitarnya. Kopi Ateng sendiri adalah subvarietas kopi Arabica yang menghasilkan bijih kopi baik (ketimbang kopi Robusta),
namun berbuah banyak layaknya kopi Robusta serta dipanen lebih cepat yaitu kurang lebih 2 tahun sejak dibibit dibandingkan jenis Arabica murni yang harus menunggu 3 - 4 tahun. Cepatnya masa panen tersebut menyebabkan para penduduk lokal menyebut kopi ini adalah Kopi Sigarar Utang (bahasa batak), yang artinya kopi untuk membayar utang. Petani tak perlu lagi meminjam uang untuk modal usaha ataupun sekedar menutupi kebutuhan sehari-hari kepada koperasi ataupun rentenir (pada masa menunggu panen) karena panen Kopi Ateng yang cepat ini mampu segera memenuhi kebutuhan para petani, bahkan dipakai untuk membayar utang (yang pernah ada). Itu sebabnya, banyak ladang-ladang kemiri, bawang, cabe dan lain-lain dialih fungsikan menjadi kebun-kebun Kopi Ateng . 



Masa produktif Kopi Ateng sendiri mencapai 10 tahun, sedangkan untuk periode panen petani dapat memungutnya sekali dalam 2 minggu. Jadi petani bisa menjual hasil panennya 2X sebulan dengan harga Rp 15.000-Rp 20.000 per kg. Harga ini jauh lebih tinggi jika kopi sudah kering. Berdasarkan penghitungan kasar penduduk lokal, hasil obrologi kami, lahan 0,5 (setengah) Hektar saja dapat menghasilkan kopi 200 kg (16 kaleng kopi/bulan). Nah dengan begitu si petani bisa mendapatkan Rp 3 juta - 4 juta. Gak heran kan mereka berlomba untuk menanam si Kopi Ateng. Akan tetapi masyarakat juga akan lebih menikmati hasil pertanian apabila ada perhatian dari pemerintah kabupaten daerah samosir dalam hal pemasaran, sehingga petani tidak tergantung dengan harga yang ditentukan oleh tengkulak setidaknya pemerintah mempunyai solusi bidang pemasaran  dan sarana lalulintas seperti jalan raya yang layak dilalui oleh kendaraan umum.













2 komentar:

  1. tun..ai gabbarni kopinta nai barungbuungi di...?

    BalasHapus